Sejarah Tajemtra Jember, Tradisi Gerak Jalan yang Bertahan Sejak 1977

JEMBER, RJNews.id – Gerak Jalan Tanggul–Jember Tradisional (Tajemtra) menjadi salah satu tradisi olahraga masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang telah berlangsung sejak 1977. Selama hampir lima dekade, kegiatan tersebut terus berkembang dan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane, S.STP., M.Si., mengatakan Tajemtra tidak sekadar menjadi kegiatan gerak jalan, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu perjalanan.

“Sejak 1977 sampai hari ini, generasinya berganti, tetapi semangat Tajemtra tetap sama. Di sepanjang perjalanan tidak ada sekat. Pelajar, masyarakat umum, komunitas, ASN, pekerja, tua maupun muda berjalan di jalur yang sama dan menuju garis finis yang sama. Inilah salah satu wajah kebersamaan masyarakat Jember,” ujar Regar.

BACA JUGA :  Disaksikan Al Haris, Gubernur BI Perry Warjiyo Kukuhkan Kepala Kantor BI Jambi

Menurut Regar, perjalanan Tanggul–Jember juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan ketahanan dan kebersamaan. Peserta tidak hanya membutuhkan kecepatan untuk menyelesaikan lintasan, tetapi juga konsistensi, kekompakan, serta kemampuan untuk saling memberikan dukungan.

“Tajemtra mengajarkan kita satu hal sederhana: perjalanan panjang akan terasa lebih ringan ketika ditempuh bersama. Ada yang lelah, ada yang menyemangati. Ada yang tertinggal, ada yang menunggu. Semangat seperti inilah yang harus terus kita jaga dalam membangun Jember,” katanya.

Seiring waktu, Tajemtra berkembang menjadi bagian dari pesta rakyat di sepanjang jalur Tanggul–Jember. Warga tidak hanya menyaksikan peserta, tetapi juga ikut meramaikan kegiatan melalui berbagai aktivitas. Kehadiran UMKM, kreativitas peserta, yel-yel, kostum, dan hiburan turut membentuk karakter Tajemtra.

BACA JUGA :  Ketua IKA UNH Ajak Mahasiswa Baru Jadi Generasi Berintegritas dan Adaptif di Era Digital

Pada pelaksanaan Tajemtra 2026, jumlah peserta tercatat mencapai 25.613 orang. Angka tersebut menjadi jumlah peserta tertinggi dalam catatan pelaksanaan sejak 2015.

Para peserta menempuh lintasan sekitar 29,4 kilometer, dari Alun-Alun Tanggul hingga Alun-Alun Jember.

Pemerintah Kabupaten Jember menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa Tajemtra masih memiliki daya tarik sebagai tradisi yang terus berkembang. Tajemtra tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai warisan budaya dan olahraga masyarakat yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

BACA JUGA :  Luki Zaiman Prawira Dilantik Sebagai Penjabat Sekda Provinsi Kepulauan Riau

Ke depan, pelestarian Tajemtra diarahkan tidak hanya pada peningkatan skala penyelenggaraan, tetapi juga pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menggerakkan perekonomian di sepanjang jalur, membuka ruang bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif, serta memperkenalkan berbagai potensi daerah.

Regar mengatakan keberlangsungan Tajemtra membutuhkan proses pewarisan kepada generasi berikutnya agar tradisi tersebut tetap relevan dan memberikan manfaat yang lebih luas.

“Tradisi tidak cukup hanya dipertahankan. Tradisi harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dibuat semakin menarik, dan memberikan manfaat yang semakin luas. Kita ingin anak-anak muda Jember suatu saat bisa bercerita bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tajemtra,” pungkasnya. (Zn)