Gubernur Al Haris Ingatkan Risiko Bonus Demografi Jika Tak Dikelola

RJ News.id – Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan bonus demografi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi keberlanjutan pembangunan di Provinsi Jambi. Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi, Rabu (8/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi Putut Riyatno serta Inspektur Utama Kemendukbangga/BKKBN RI A. Damenta yang mengikuti secara daring.

Al Haris menegaskan bahwa persoalan kependudukan bukan hanya tanggung jawab satu lembaga, melainkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, hingga masyarakat.

“Isu kependudukan mencakup banyak aspek, mulai dari ibu hamil, stunting, menyusui, hingga pengendalian jumlah penduduk. Ini bukan hanya tugas satu lembaga, tetapi tanggung jawab bersama,” ujar Al Haris.

BACA JUGA :  Perkuat Peran Legislatif, DPRD Batang Hari Kunjungi DPRD Muaro Jambi

Al Haris menjelaskan, bonus demografi yang tengah berlangsung menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta kesiapan menghadapi tantangan seperti urbanisasi, distribusi penduduk, dan layanan pendidikan serta kesehatan.

Ia menyebut puncak bonus demografi diperkirakan terjadi pada 2040. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, sebanyak 68,66 persen penduduk Jambi berada pada usia produktif 15–64 tahun.

“Hampir 70 persen penduduk berada pada usia produktif. Ini peluang besar, tetapi juga tantangan. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi beban. Namun, jika dimanfaatkan, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Selain itu, Al Haris mengingatkan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Data BPS menunjukkan sekitar 6,03 persen penduduk Jambi berusia 60 tahun ke atas.

BACA JUGA :  Pamit Tugas, Kombes Pol Agus Tri Waluyo Titipkan Rumah Baca untuk Warga Pulau Pandan

Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui kebijakan yang tepat, termasuk pendataan dan dukungan anggaran di tingkat kabupaten/kota.

“Kita harus mendata jumlah lansia secara akurat dan memastikan ada intervensi yang tepat, terutama bagi lansia yang tidak memiliki keluarga atau tinggal di rumah tidak layak,” ujarnya.

Al Haris juga menyoroti peningkatan angka stunting di Jambi yang mencapai 17,1 persen. Ia menegaskan perlunya langkah strategis untuk menekan angka tersebut.

“Kenaikan ini harus menjadi perhatian serius. Kita perlu memperkuat data, SDM, kelembagaan, dan sinergi antarinstansi,” katanya.

Selain stunting, angka kematian bayi dan ibu juga masih menjadi perhatian. Angka Kematian Bayi (AKB) tercatat 16,99 per 1.000 kelahiran, sementara Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 177 per 100.000 kelahiran.

BACA JUGA :  Simpan Sabu di Kos - kosan dan Ruko, Pengedar Sabu Diamankan Satresnarkoba Polresta Jambi

Di sisi lain, Al Haris menyoroti fenomena “fatherless” atau kurangnya peran ayah dalam keluarga yang dinilai berpotensi memicu masalah sosial.

“Sekitar 25 persen anak kehilangan figur ayah. Ini harus menjadi perhatian bersama karena dapat berdampak pada perkembangan anak,” ujarnya.

Penguatan Program Bangga Kencana

Al Haris berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana, termasuk pemerintah daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Ke depan, kita harus lebih serius dan fokus. Dengan kerja sama yang kuat, berbagai persoalan kependudukan di Jambi dapat diatasi,” katanya. (Adv)