Frengki Mardoni Gagas Kampung Organik Berbasis Sampah, Ubah Limbah Jadi Sumber Ekonomi

RJ News.id – Di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah perkotaan, sebuah konsep berbasis pemberdayaan masyarakat hadir sebagai solusi alternatif. Gagasan tersebut diwujudkan melalui Program Kampung Organik Berbasis Sampah yang dikembangkan Frengki Mardoni bersama Forum Komunikasi Masyarakat Pencinta Lingkungan Hidup (FKMPLH) Kota Padang.

Konsep ini menawarkan pendekatan pengelolaan sampah dari sumbernya dengan mengubah limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Melalui program tersebut, masyarakat didorong untuk mengelola sampah secara mandiri sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.

Menurut Frengki Mardoni, Kampung Organik Berbasis Sampah dirancang untuk menjadikan lingkungan permukiman tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu mengelola limbah secara berkelanjutan.

“Selama ini sampah sering dipandang sebagai masalah. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah organik dapat menjadi sumber manfaat yang bernilai bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA :  Hadiri Dies Natalis dan Wisuda UNJA, Wagub Sani Tekankan Peran Kampus dalam Pembangunan

Dalam penerapannya, konsep Kampung Organik Berbasis Sampah mengandalkan tiga metode utama, yakni pembuatan kompos, budidaya maggot, dan produksi eco enzyme.

Pada metode pertama, sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dan daun-daunan diolah menjadi kompos melalui komposter atau lubang biopori. Hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Metode kedua adalah budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly). Sisa makanan rumah tangga dimanfaatkan sebagai media pakan maggot yang mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan.

Selain membantu pengelolaan sampah, maggot yang dihasilkan juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, unggas, maupun ternak.

Sementara itu, metode ketiga dilakukan melalui pembuatan eco enzyme dengan memfermentasi kulit buah menggunakan air dan molase. Cairan hasil fermentasi tersebut dapat digunakan sebagai pembersih alami, pupuk cair, hingga disinfektan ramah lingkungan.

BACA JUGA :  Lewat #Cari_Aman, Honda Sinsen Edukasi Pengendara Pentingnya Cek Kendaraan

Penerapan konsep Kampung Organik Berbasis Sampah memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Dari sisi lingkungan, pengolahan sampah di tingkat rumah tangga mampu mengurangi jumlah limbah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Kondisi ini berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta risiko banjir akibat saluran drainase yang tersumbat sampah.

Selain itu, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung program pertanian pekarangan atau urban farming. Warga dapat menanam sayuran dan tanaman obat keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Manfaat lainnya juga dirasakan dari sisi ekonomi. Produk seperti kompos, pupuk cair, eco enzyme, maggot kering, hingga hasil panen sayuran organik memiliki nilai jual yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Frengki Mardoni menegaskan bahwa konsep Kampung Organik Berbasis Sampah dapat diterapkan di berbagai wilayah dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

BACA JUGA :  Hari Batik Nasional 2025, Rumah Kito Ajak Karyawan Membatik Bersama UMKM Jambi

“Bagi masyarakat yang ingin mempelajari pengelolaan sampah rumah tangga hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi, dapat merujuk pada panduan yang disusun Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang. Selain itu, masyarakat juga dapat melihat langsung praktik yang telah dijalankan FKMPLH di kawasan Bungus Timur,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Melalui konsep Kampung Organik Berbasis Sampah, limbah rumah tangga yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber manfaat bagi lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. (hd)