Empat Bulan Sumur Mengering, Siswa SDN Plalangan 6 Jember Terpaksa BAB di Sungai

JEMBER, RJNews.id – Kekeringan yang melanda SDN Plalangan 6, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama sekitar empat bulan terakhir menyebabkan sekolah tersebut mengalami krisis air bersih. Akibatnya, siswa dan guru kesulitan memenuhi kebutuhan sanitasi, bahkan sebagian siswa terpaksa buang air besar (BAB) di sungai.

Sumur gali yang selama ini menjadi sumber air utama sekolah dilaporkan mengering akibat kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah, terutama dalam memenuhi kebutuhan air untuk toilet dan menjaga kebersihan.

Penjaga SDN Plalangan 6, Buamin, mengatakan sumur gali yang biasa digunakan kini tidak lagi mengeluarkan air. Kondisi itu telah berlangsung selama kurang lebih empat bulan.

BACA JUGA :  Pemkab Bintan Bahas Kajian Pemekaran Kecamatan Bintan Timur untuk Tingkatkan Pelayanan Publik

“Air sumur gali sudah habis. Sudah empat bulan,” kata Buamin saat ditemui di lokasi, Senin (26/10/2026).

Keterbatasan air membuat pihak sekolah harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sanitasi. Salah satunya dengan membeli air untuk mengisi tempat mandi, cuci, kakus (MCK) yang tersedia di sekolah.

Menurut Buamin, biaya pengisian air mencapai Rp40.000 untuk setiap MCK. Dari total enam MCK yang tersedia, hanya tiga yang dapat diisi menggunakan air yang dibeli.

Dengan demikian, sekolah harus mengeluarkan biaya Rp120.000 untuk mengisi tiga MCK tersebut. Air itu digunakan untuk menunjang kebutuhan toilet di tengah kondisi sumur yang mengering.

Meski demikian, ketersediaan air masih terbatas. Sebagian siswa dan guru harus menghemat penggunaan air, terutama untuk kebutuhan sanitasi. Sementara itu, siswa yang hendak buang air besar terpaksa pergi ke sungai karena keterbatasan fasilitas air di sekolah.

BACA JUGA :  Bupati Dillah Sambut Investor Jerman, Dorong Hilirisasi Kelapa Dalam di Tanjab Timur

Buamin menjelaskan bahwa air yang biasa digunakan untuk mencuci dan menyiram tanaman berasal dari sumur. Namun, untuk kebutuhan konsumsi, pihak sekolah memilih membeli air minum.

“Ya, kayak begini, untuk cuci, nyiram tanaman biasanya pakai air sumur, kalau untuk minum tidak. Air minum kita beli,” ujarnya.

Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah berharap adanya bantuan pemerintah untuk mengatasi persoalan kekurangan air bersih. Bantuan yang dibutuhkan antara lain berupa pasokan air bersih, tandon penampungan air, hingga pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif.

BACA JUGA :  Bangun Spiritualitas Kota Jambi, Maulana Gelar Buka Bersama Ulama dan Ormas

Buamin menilai keberadaan tandon akan membantu sekolah menampung persediaan air sehingga kebutuhan sehari-hari siswa dan guru dapat terpenuhi dengan lebih baik.

Terlebih, SDN Plalangan 6 memiliki 134 siswa yang membutuhkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

“Kalau bisa minta bantuan-bantuan tandon serta air dari pemerintah untuk menampung air, syukur-syukur sumur bor,” harapnya.

Pihak sekolah berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan bantuan agar persoalan kekeringan tersebut dapat ditangani. Ketersediaan air bersih dinilai penting untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah sekaligus memastikan kebutuhan sanitasi siswa dan guru terpenuhi secara layak. (Zn)