Dinilai Sejalan dengan Asta Cita, Ketua ARUN Sumbar Apresiasi Jumat Keliling dan Minggu Kasih Polri

RJ News.id – Program Jumat Keliling dan Minggu Kasih yang dijalankan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mendapat apresiasi dari Ketua Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) Sumatera Barat, Mevrizal, S.H., M.H.

Program tersebut dinilai menjadi salah satu upaya mendekatkan kepolisian dengan masyarakat, menyerap aspirasi warga, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Mevrizal menyampaikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Polisi Dr. H. Suyudi Ario Seto, S.H., S.I.K., M.Si., C.I.R.R., beserta seluruh jajaran kepolisian, mulai dari tingkat polda, polres, hingga polsek di berbagai daerah di Indonesia.

Apresiasi khusus juga disampaikan kepada Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Drs. Jawari, S.H., M.H., beserta jajarannya yang dinilai terus mendorong pendekatan pelayanan melalui silaturahmi, kegiatan keagamaan, dan komunikasi langsung dengan masyarakat.

Menurut Mevrizal, Jumat Keliling dan Minggu Kasih tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial. Kedua program tersebut perlu dimanfaatkan sebagai ruang dialog untuk mendengarkan keluhan warga, menyerap aspirasi, sekaligus mengidentifikasi persoalan sosial dan keamanan yang membutuhkan penanganan.

“Program seperti Jumat Keliling dan Minggu Kasih patut diapresiasi karena membuka ruang perjumpaan langsung antara polisi dan masyarakat. Kepolisian tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan hukum atau gangguan keamanan, tetapi juga membangun komunikasi, mendengar aspirasi, dan mencegah persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ujar Mevrizal.

BACA JUGA :  Gubernur Al Haris: Pemprov Jambi Dukung Penuh Program Kemendikdasmen Wujudkan Pendidikan Berkualitas dan Merata

Perkuat Kemitraan Polisi dan Masyarakat
Mevrizal menilai kedua program tersebut sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat yang diusung Kapolri.

Menurutnya, keberhasilan tugas kepolisian tidak hanya diukur dari penegakan hukum, tetapi juga dari kualitas pelayanan, keterbukaan terhadap kritik, serta kemampuan membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan.

Jumat Keliling menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan komunikasi dengan masyarakat Muslim. Sementara itu, Minggu Kasih membuka ruang interaksi dengan masyarakat Kristiani.

Melalui kedua pendekatan tersebut, polisi memiliki kesempatan untuk memahami persoalan warga secara langsung sekaligus membangun kemitraan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Namun, Mevrizal menegaskan bahwa keberhasilan program perlu diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, terutama melalui tindak lanjut terhadap aspirasi dan keluhan yang disampaikan.

“Polisi yang dekat dengan masyarakat akan lebih mudah memahami persoalan yang dihadapi warga. Sebaliknya, masyarakat yang memperoleh ruang komunikasi dan pelayanan yang baik akan lebih terbuka untuk bekerja sama menjaga keamanan dan ketertiban. Inilah kemitraan yang perlu terus diperkuat,” katanya.

BACA JUGA :  Uang dan Badik Hilang, Keluarga Pertanyakan Kematian Korban

Pelayanan Publik Harus Disertai Akuntabilitas
Lebih lanjut, Mevrizal mengaitkan pelaksanaan Jumat Keliling dan Minggu Kasih dengan upaya pembenahan institusi Polri, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, profesionalisme personel, transparansi, akuntabilitas, pengawasan, penegakan hukum yang berkeadilan, transformasi digital, serta pemeliharaan kamtibmas.

Menurutnya, pendekatan yang mengutamakan kedekatan dengan masyarakat harus diimbangi dengan konsistensi dalam pelaksanaan tugas. Hal itu antara lain diwujudkan melalui respons terhadap pengaduan, penyampaian informasi mengenai penanganan persoalan sesuai ketentuan, dan pemberian pelayanan secara adil tanpa diskriminasi.

Ia menilai kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui slogan atau kegiatan kunjungan. Kepercayaan akan tumbuh apabila masyarakat merasa didengar, memperoleh pelayanan yang layak, dan melihat adanya tindak lanjut atas persoalan yang mereka sampaikan.

Karena itu, Mevrizal mendorong agar pelaksanaan Jumat Keliling dan Minggu Kasih disertai evaluasi berkala. Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengukur kualitas komunikasi antara polisi dan masyarakat, tindak lanjut aspirasi warga, serta kontribusi program terhadap kondisi keamanan di lingkungan setempat.

Dalam konteks pembangunan nasional, Mevrizal menilai pendekatan kepolisian yang mengedepankan dialog, pelayanan, dan kepastian hukum memiliki relevansi dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, keamanan dan ketertiban merupakan faktor penting dalam mendukung pembangunan. Lingkungan yang aman, kepastian hukum, dan pelayanan publik yang dapat diandalkan dibutuhkan masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, dan keagamaan.

BACA JUGA :  Lewat #Cari_Aman, Honda Sinsen Edukasi Pengendara Pentingnya Cek Kendaraan

Dalam konteks tersebut, Jumat Keliling dan Minggu Kasih dinilai berpotensi memperkuat kehadiran negara di tengah masyarakat sekaligus mendorong partisipasi warga dalam menjaga keharmonisan sosial.
Pendekatan ini juga dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya membangun kepercayaan publik, menjaga stabilitas sosial, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Secara khusus, Mevrizal mengapresiasi Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Drs. Jawari, S.H., M.H., beserta jajaran polres dan polsek yang melaksanakan pembinaan serta pelayanan hingga tingkat kewilayahan.

Ia berharap semangat Polisi Bersama Masyarakat dapat diterapkan secara konsisten, termasuk di nagari dan wilayah yang jauh dari pusat pelayanan.

Menurutnya, kemitraan antara polisi dan masyarakat merupakan modal penting untuk mencegah gangguan keamanan, menangani persoalan sosial, serta menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

Dengan demikian, Jumat Keliling dan Minggu Kasih diharapkan tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberikan manfaat nyata melalui pelayanan yang responsif, penegakan hukum yang adil, serta tindak lanjut terhadap aspirasi masyarakat. (HD)