Hidup untuk Diri Sendiri atau untuk Tepuk Tangan Orang Lain?

Oleh : Yudawan Bagaskara

Ada orang yang tidak pernah benar-benar menikmati hidupnya sendiri. Bukan karena mereka kekurangan sesuatu. Bukan karena hidup mereka selalu sulit. Tetapi karena hampir setiap langkah yang mereka ambil bergantung pada satu hal: pengakuan dari orang lain.

Mereka merasa senang ketika dipuji. Merasa berharga ketika diperhatikan. Merasa berhasil ketika mendapat banyak apresiasi. Sebaliknya, mereka mudah kecewa ketika usahanya tidak mendapat respons yang diharapkan.

Tanpa sadar, kebahagiaan mereka berada di tangan orang lain.

Padahal hidup seperti itu melelahkan.

Sebab manusia tidak pernah bisa memuaskan semua orang. Akan selalu ada yang menyukai kita, dan akan selalu ada yang tidak peduli. Akan selalu ada yang memuji, dan akan selalu ada yang mengkritik.

BACA JUGA :  Menimbang Kembali Desain Fiskal Daerah dalam Arsitektur UU HKPD

Masalahnya, ketika seseorang terlalu haus validasi, ia mulai kehilangan dirinya sendiri.

Ia memilih pekerjaan yang terlihat hebat di mata orang lain, meskipun tidak membuatnya bahagia. Ia membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya agar dianggap berhasil. Ia mengunggah setiap pencapaian bukan untuk berbagi kebahagiaan, tetapi karena takut dianggap tidak berkembang.

Lambat laun, hidupnya berubah menjadi panggung.

Setiap tindakan harus mendapat tepuk tangan. Setiap pencapaian harus mendapat pengakuan. Setiap keputusan harus mendapatkan persetujuan.

Yang menyedihkan, tepuk tangan itu tidak pernah cukup.

Hari ini dipuji, besok ingin dipuji lagi. Hari ini mendapat perhatian, besok mencari perhatian yang lebih besar. Ada kekosongan yang terus meminta untuk diisi, tetapi tidak pernah benar-benar penuh.

BACA JUGA :  JAMBI NAIK KELAS : Dari Daerah Penyangga Menjadi Aktor Pembangunan Nasional

Padahal tidak semua hal dalam hidup membutuhkan penonton.

Ada perjuangan yang cukup diketahui oleh diri sendiri. Ada kebaikan yang tidak perlu diumumkan. Ada pencapaian yang tetap bernilai meskipun tidak mendapatkan pujian.

Semakin bertambah usia, saya justru melihat bahwa orang-orang yang paling tenang bukanlah mereka yang selalu menjadi pusat perhatian. Mereka adalah orang-orang yang tidak lagi sibuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan untuk dipuji. Mereka berbuat baik, bukan untuk dilihat. Mereka menjalani hidup sesuai keyakinannya, bukan sesuai ekspektasi banyak orang.

BACA JUGA :  Menagih Daulat Industri : Reorientasi Subsidi Menuju Indonesia Hub Bus Listrik Dunia

Mereka memahami satu hal sederhana: tidak semua orang harus menyukai kita.

Dan itu tidak apa-apa.

Sebab nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pujian yang diterima, jumlah pengikut di media sosial, atau seberapa sering namanya dibicarakan.

Nilai diri seseorang terletak pada karakter, integritas, dan ketenangan yang ia miliki ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikannya.

Pada akhirnya, hidup yang paling damai bukanlah hidup yang penuh validasi. Melainkan hidup yang tidak lagi bergantung pada validasi.

Karena ketika seseorang berhenti hidup untuk mendapatkan tepuk tangan orang lain, saat itulah ia mulai benar-benar hidup untuk dirinya sendiri.

Penulis adalah Pecinta Seni